## ***awah*** **Salabisasi**: a-wah **Kelas kata**: Nomina (kata benda) dan Verba (kata kerja, dalam bentuk turunan). **Makna**: Mulut, paruh, lubang berbentuk mulut; akses atau pintu masuk; awal atau permulaan. **Fungsi Utama**: Digunakan sebagai kata benda untuk menyebut mulut (pada manusia atau hewan), bukaan fisik, atau titik awal suatu hal (seperti jalan atau perselisihan). Dalam bentuk turunan, berfungsi sebagai verba untuk memarahi atau sebagai nomina untuk menyebut pembicara atau juru bicara. **Contoh Penggunaan**: - ***Kòlak pĕdih awahé*** : dia memiliki mulut yang besar, adalah seorang pemarah/peneriak. - ***awah n ambung*** : bukaan (bagian atas) dari sebuah *ambung*. - ***awah n dĕné*** : awal dari jalan [ke suatu tempat]. - ***awah n kité*** : portal di bagian atas tangga rumah. - ***awah n pintu*** : bukaan pintu. - ***awah n pri*** : awal dari atau pemicu suatu perselisihan. Lihat sub (*bĕdil*, *kirii* dan *oe*). - ***Awahi : nawahi*** : mengarahkan mulut kepada, memarahi [seorang anak]: - ***nti awahi òlòk tu anakmu e*** : jangan memarahi anakmu terlalu keras. - ***Pĕrawah*** : pembicara, "juru bicara", yang berbicara atas nama seluruh kelompok (misalnya karena dia pandai berbicara, atau menguasai bahasa asing, bahasa Aceh atau Melayu); suka berteriak-teriak. - ***Awa(h)-awahen*** : suka bergosip, suka mengobrol, tidak bisa menyimpan rahasia. **Catatan**: 1. **Variasi Penggunaan**: Kata ini memiliki bentuk turunan yang produktif, seperti *awahi* atau *nawahi* (memarahi), *pĕrawah* (pembicara/juru bicara), dan *awa(h)-awahen* (suka mengobrol/tidak bisa menyimpan rahasia). 2. **Konteks Budaya**: Konsep ***awah*** tidak hanya merujuk pada anatomi mulut, tetapi juga berfungsi sebagai metafora untuk "awal" atau "pemicu" (seperti ***awah n pri***, awal perselisihan). Peran ***pĕrawah*** dihargai dalam masyarakat Gayo sebagai juru bicara yang mampu mewakili kelompok, terutama jika ia menguasai bahasa asing seperti bahasa Aceh atau Melayu. Hal ini menunjukkan nilai kepemimpinan, diplomasi, dan kemampuan retorika yang tinggi dalam struktur sosial dan musyawarah adat. 3. **Perbandingan dengan Sesi Sebelumnya**: - Kata ***awah*** berkaitan erat dengan entri ***bĕdil*** yang sebelumnya disebutkan menggunakan ***awah*** atau ***ujung*** untuk menyebut moncong laras senapan. - Konsep ***awah n pri*** (pemicu perselisihan) melengkapi pembahasan mendalam tentang ***pri*** (perkara/perselisihan) dan ***bōh*** (menyebabkan) pada sesi-sesi sebelumnya. - Penggunaan kata ***kòlak*** (besar) dan ***pĕdih*** (sangat) dalam contoh ***kòlak pĕdih awahé*** juga mengulang dan mengaitkan kembali kosakata yang telah dibahas secara rinci pada entri ***kōl*** dan ***pĕdih***.