## ***BUDI*** **Salabisasi**: bu-di **Kelas kata**: Nomina (kata benda) – Serapan dari Bahasa Melayu **Makna**: 1. Akhlak; perilaku; tingkah laku; watak. 2. *(Dalam frasa majemuk)*: Karakter moral; etika personal; kesopanan dalam bertindak. **Fungsi Utama**: 1. Menyebutkan kualitas moral atau etis seseorang, hampir selalu dalam konstruksi frasa majemuk dengan ***pĕkĕrti*** atau ***pĕngerti***. 2. Membentuk predikat negatif untuk menilai perilaku seseorang yang tidak sesuai dengan norma kesopanan. **Contoh Penggunaan**: 1. ***Gere mubudi-pĕkĕrti atau (mubudi-pĕngĕrti) jĕma òya***: Orang itu tidak berperilaku baik; tidak sopan/tidak beretika. 2. ***mĕnyuen budi***: Menanam budi; berbuat baik kepada orang lain agar mereka bersikap baik kembali (lihat entri ***[suen](./Suen.md)***). **Catatan**: * **Asal Usul & Integrasi Leksikal**: * Sumber secara eksplisit mencatat ***budi*** sebagai kata serapan dari bahasa Melayu. Dalam bahasa Gayo, kata ini tidak umum digunakan secara independen, melainkan hampir selalu muncul dalam frasa majemuk ***budi-pĕkĕrti*** atau ***budi-pĕngerti***. * ***Pĕkĕrti*** dan ***pĕngerti*** sendiri merupakan serapan atau kognat dari bahasa Jawa/Melayu (*pekerti* = perilaku, *pengerti* = pengertian/akhlak), menunjukkan lapisan kosakata etis yang diadopsi melalui kontak budaya regional. * **Pola Frasa Majemuk & Negasi**: * Struktur ***budi-pĕkĕrti*** / ***budi-pĕngerti*** merupakan *compound ethical term* yang berfungsi sebagai satu unit semantis untuk menilai karakter moral. * Pola negasi ***gere mu-...*** (dari *gere* = tidak + prefiks *mu-* = memiliki) pada ***gere mubudi-pĕkĕrti*** adalah konstruksi khas Gayo untuk menyatakan ketiadaan sifat: "tidak memiliki budi-pekerti". * **Relasi Leksikal dengan Entri Lain**: * ***mĕnyuen budi*** (dari entri ***[suen](./Suen.md)***): Metafora agrikultur untuk interaksi sosial—"menanam" kebaikan agar "dipanen" dalam bentuk relasi positif. Ini menunjukkan integrasi nilai etis ke dalam kosakata praktis Gayo. * **Konteks Budaya & Evaluasi Sosial**: * Frasa ***gere mubudi-pĕkĕrti*** bukan sekadar deskripsi perilaku, melainkan **penilaian moral publik** yang memiliki bobot sosial signifikan. Menyatakan seseorang "tidak berbudi-pekerti" dalam masyarakat Gayo tradisional dapat memengaruhi status, kepercayaan, dan relasi sosialnya. * Penggunaan kata serapan Melayu untuk konsep etika mencerminkan pengaruh sistem nilai regional (Melayu-Islam) dalam pembentukan moralitas lokal Gayo, tanpa menghilangkan struktur gramatikal Gayo (mis. pola negasi ***gere mu-...***).