## ***Cincang*** **Salabisasi**: cin·cang **Kelas kata**: verba (makna 1); nomina (makna 2) **Makna**: 1. **Memotong halus** atau **menghancurkan menjadi potongan-potongan kecil**, terutama bahan makanan. 2. **Nama motif hias** tradisional berupa ukiran berulang yang menyerupai goresan atau potongan halus, ditemukan pada tembikar, ukiran kayu, perhiasan (misalnya gelang), dan kerajinan lainnya. **Fungsi Utama**: - Sebagai **verba**, menyatakan tindakan pengolahan bahan dengan cara dipotong sangat halus. - Sebagai **nomina**, merujuk pada **pola estetika budaya** dalam seni rupa tradisional Gayo. **Contoh Penggunaan**: - ***Nangka icincang kĕn jantar*** → Nangka dipotong halus untuk dimasak menjadi lauk. - ***Harĕge icincang nge itĕngkah jĕma*** → Ia seolah-olah dipotong-potong kecil; begitu keras mereka mengeroyoknya. **Catatan Tambahan**: - Bentuk terkonjugasi: *ncincang* (misalnya dalam kalimat aktif: *nge ncincang nangka* = “ia memotong halus nangka”). - Dibandingkan dengan **[taka](./Taka.md)**, *cincang* lebih menekankan pada **kehalusan dan kelembutan potongan**, sedangkan *[taka](./Taka.md) * cenderung pada **pemotongan kasar atau pemecahan** (misalnya kulit kayu atau daging). - Sebagai **motif ornamen**, *ukir cincang* mencerminkan nilai estetika lokal dan sering dikaitkan dengan identitas kerajinan etnis Gayo—mirip dengan pola “kerawang” atau “tekat” dalam budaya Melayu lainnya. - Dalam konteks metaforis (*harĕge icincang*), frasa ini menggambarkan **kekerasan fisik ekstrem**, menunjukkan penggunaan bahasa figuratif dalam narasi konflik. --- Sumber : 1. Hazeu, GAJ (1907) Gajosch - Nederlandsch Wordenboek, Batavia Landsrukkerij, halaman (53) ---