## ***geli*** (atau ***gli***) **Salabisasi**: ge-li / gli **Kelas kata**: Nomina (kata benda) dan Adjektiva/Verba (kata sifat/kata kerja keadaan, dalam bentuk turunan). **Makna**: 1. Sensasi geli atau kelitik (gatal karena sentuhan ringan). 2. Rasa jijik, muak, ngeri, atau antipati yang mendalam terhadap seseorang, sesuatu, atau suatu tindakan. **Fungsi Utama**: Digunakan untuk mendeskripsikan dua spektrum respons yang berbeda namun terkait: respons sensorik fisik (rasa geli/kelitik) dan respons emosional yang kuat berupa penolakan, rasa jijik, atau merinding terhadap suatu hal. **Contoh Penggunaan**: - ***Gĕli krèdèkku ikèdèkié*** : Dia menggelitik ketiak saya, rasanya geli (menyebabkan sensasi kelitik). - ***gĕli aténgku nèngòn bangké*** : Saya merasa ngeri/jijik jika melihat bangkai. - ***gĕli até ni jĕma*** : Orang-orang merasa muak/jijik karenanya. - ***aku gĕli pĕdih aténgku kĕn sé*** : Saya memiliki rasa muak/jijik yang sangat hebat terhadapnya. - ***Gelii (mĕnggĕlii)*** : Menggelitik seseorang (dialek Gayo Laut). - ***Pĕgĕli*** : Tidak tahan terhadap rasa geli/kelitik; atau sebagai bentuk komparatif dari *gĕli*, yang berarti lebih muak atau lebih membenci. **Catatan**: 1. **Dualitas Makna (Fisik dan Emosional)**: Kata ini menunjukkan fleksibilitas semantik yang menarik. Ia bisa merujuk pada sensasi fisik yang ringan dan kadang menyenangkan (kelitik), tetapi juga bisa merujuk pada sensasi emosional yang sangat berat dan negatif (jijik, muak, ngeri). Penggunaan kata ***aténgku*** (hatiku/perasaanku) dalam contoh kalimat menekankan bahwa rasa jijik ini dirasakan secara mendalam di dalam batin. 2. **Konteks Budaya dan Metafora Sosial**: Konsep ***pĕgĕli*** sebagai bentuk komparatif ("lebih muak" atau "lebih membenci") menunjukkan bahwa bahasa Gayo memiliki gradasi untuk mengukur tingkat penolakan atau kebencian seseorang. 3. **Perbandingan**: - ***gĕli*** dan ***luét*** berada dalam satu rumpun semantik (rasa tidak suka/jijik). - Namun, terdapat perbedaan nuansa yang jelas: ***gĕli*** memiliki spektrum ganda (bisa fisik/kelitik, bisa emosional/jijik), sedangkan ***luét*** jauh lebih spesifik dan berat, cenderung mengarah murni pada kebencian, muak, atau antipati yang mendalam, tanpa konotasi fisik "kelitik".