## Kĕné **Salabisasi**: ke- né **Kelas Kata**: Partikel / Penunjuk Pelaku Ucapan (Partikula of Aanwijzing van de Spraakuitser) **Makna**: Digunakan setelah ujaran langsung untuk menunjukkan pelaku pembicaraan; mirip dengan “katanya” atau “ujarnya” dalam bahasa Indonesia. **Fungsi Utama**: 1. Menandai siapa yang sedang berbicara dalam narasi atau cerita. 2. Digunakan setelah klausa ujaran langsung. 3. Tidak digunakan sebelum ujaran langsung (untuk itu digunakan frasa *gèh kĕné*). **Contoh Penggunaan**: - ***ike blōh kĕné ama, blōh, nti kĕné, nti mi*** : Kalah ayah yang berkata pergi, maka pergi, jangan kata ayah, ya jangan - ***hingge gèh kĕné anaké: Ine, ine, kĕné, imbednenkam aku*** : lalu anaknya berkata: Ibu, ibu!, gendonglah (angkatlah) aku. - ***mbėk, kĕné kambing, auh, kĕné kule, pèng, kĕné akang*** → mbek, kata kambing, auh, kata harimau, peng, kata rusa. - ***kĕn aku gere, kĕnéwé ara*** → aku bilang tidak ada, dia bilang ada. - ***kĕn' aku mi sine*** → sebuah partikel penegas dalam cerita (mirip filler word), seperti “kataku”. - ***Kune kĕné, Kune Jĕròh, kĕné aku*** : Dia bertanya bagaimana, bagaimana baiknya, jawabku **Catatan Tambahan**: - Bentuk asli berasal dari kombinasi *kĕn + é*, dengan *é* menunjuk pada orang ketiga tunggal atau jamak. Dalam banyak kasus, *kĕn* dan *é* sudah menyatu menjadi *kĕné*. - Di depan vokal, bentuk asli kadang tetap muncul sebagai *kĕn’*, misalnya *kĕn’ akoe = kĕné akoe*. - Kata ini sangat umum digunakan dalam narasi cerita rakyat Gayo, sering kali muncul setelah setiap bagian ujaran langsung. - Tidak boleh disamakan dengan partikel serupa dalam bahasa Aceh (*kheun*), meskipun ada kemiripan fonetis dan fungsi. - Variasi dialek bisa menggunakan bentuk pendek seperti *kune*, *kune jĕròh*, atau *kĕné aku* tergantung konteks dan wilayah.