## REJE
**Salabisasi:** re-je
**Kelas Kata:** Nomina
**Makna:**
*Reje* adalah istilah untuk menyebut kepala suku atau pemimpin tradisional dalam masyarakat Gayo. Sebagai kepala patriarkal, *reje* memimpin sebuah komunitas berbasis garis keturunan atau bagian dari komunitas yang telah terpisah menjadi unit mandiri (blah). Selain itu, *reje* juga bertindak sebagai pemimpin politik di tingkat desa atau bagian desa (blah).
Sebagai penegak hukum adat (*[edet](./Edet#edet)*), *reje* memiliki peran penting dalam mengatur kepentingan bersama, menyelesaikan sengketa, dan menjatuhkan hukuman atas pelanggaran. Calon *reje* dipilih dari para ahli waris oleh anggota keluarga atau saudara (*saudere's*). Dalam satu komunitas (kampung) biasanya seluruh warga memiliki hubungan patrialkal yang disebut *sudere*, sehingga terke3san *reje* diwarisi secara turun temurun.
**Fungsi Utama:**
Kata ini digunakan untuk merujuk pada pemimpin tradisional yang memiliki otoritas spiritual, politik, dan adat dalam masyarakat Gayo.
**Variasi Penggunaan dan Contoh Kalimat**
1. **Sebagai Pemimpin Adat dan Politik**
- ***Sara reje***: Anggota satu garis keturunan atau *blah* yang memiliki *reje* yang sama. *(Anggota satu garis keturunan atau komunitas yang memiliki pemimpin yang sama.)*
- ***Neiken reje***: Mengangkat seorang *reje*, memproklamasikan seseorang sebagai *reje*. *(Mengangkat seseorang sebagai pemimpin adat secara resmi.)*
- Contoh: Saat pengangkatan *reje*, ritual *kĕndoeri* dilakukan dengan menyembelih seekor kerbau.
- ***Mĕlĕgihen reje***: Menurunkan atau mencopot seorang *reje* dari jabatannya. *(Menurunkan seorang pemimpin adat dari posisinya.)*
2. **Sebagai Simbol Kekuasaan dan Keberuntungan**
- ***Kĕredjen/kerejeen***: Istilah untuk "kerajaan" atau "kekuasaan tertinggi," sering digunakan dalam cerita rakyat. Juga dapat merujuk pada simbol kekuasaan seperti bawar yang diberikan oleh Sultan Aceh kepada pemimpin lokal.
- Contoh: ***Hingge djadi wé kĕn kĕrejen, kĕn reje kōl***: Kemudian dia mendapatkan kekuasaan kerajaan, dia menjadi pemimpin besar. *(Lalu dia mendapatkan kekuasaan kerajaan, dia menjadi pemimpin besar.)*
3. **Metaforis dan Konteks Lain**
- ***Reje bujang***: Sejenis burung hutan yang mengeluarkan suara *kung-kung* atau *kaka-kamaakt*. *(Sejenis burung hutan yang bersuara khas.)*
- ***Reje mas/reje***: Panggilan hormat kepada anak-anak oleh orang dewasa, terutama wanita. *(Panggilan akrab untuk anak-anak.)*
- ***Reje pĕnawar***: Istilah lain untuk penyakit cacar, yang dianggap sebagai "pemimpin penolak penyakit."
- ***Reje tiang***: Tiang tengah yang ditempatkan di sisi kanan pintu masuk rumah, dianggap memiliki makna simbolis dalam upacara tradisional.
**Penjelasan Budaya:**
- Peran *reje* mencerminkan sistem pemerintahan tradisional yang berbasis garis keturunan dan adat. Jabatan ini tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan politik tetapi juga dengan tanggung jawab spiritual dan sosial.
- Ritual pengangkatan *reje* (*neiken reje*) melibatkan upacara adat yang kompleks, termasuk penyembelihan kerbau sebagai simbol kesakralan proses tersebut.
**Contoh Penggunaan dalam Budaya Lokal:**
- ***Kampung Pangur bĕreje ku Bukit***: Desa Pangur mengakui *reje* dari Bukit sebagai pemimpin mereka.
- ***Kami gere moereje bĕsilō***: Kami saat ini tidak memiliki *reje* (yang lama telah meninggal, dan kami belum menunjuk yang baru).
**Simbolisme Tradisional:**
- Frasa seperti *suket, sipet, timbangan, bilangan* (*mengukur isi, panjang, menimbang, dan menghitung*) mencerminkan prinsip-prinsip keadilan dan keseimbangan yang harus dipegang teguh oleh seorang *reje*.
---
Perbandingan sistematis antara ***[pĕngulu](./Pengulu.md)***, ***[reje](./Reje.md)***, dan ***[[kĕjurun](./Kejurun.md)](./Kejurun.md)*** dalam konteks budaya dan sistem adat Gayo, berdasarkan entri leksikal yang tersedia:
---
### **Tabel Perbandingan Inti**
| Aspek | ***[PĔNGULU](./Pengulu.md)*** | ***[REJE](./Reje.md)*** | ***[KĔJURUN](./Kejurun.md)*** |
|------|----------------|------------|----------------|
| **Asal istilah** | Asli Gayo (lebih tua) | Muncul belakangan; mungkin pengaruh eksternal | Pinjaman dari Jawa Kuno (*kĕjuruan*) dan Aceh (*kĕujruën*) |
| **Status historis** | Gelar tradisional tertua untuk kepala suku Gayo | Gelar yang berkembang kemudian, menggantikan atau menyandingi *[pĕngulu](./Pengulu.md)* | Gelar kehormatan **diberikan oleh Sultan Aceh** kepada pemimpin Gayo tertentu |
| **Sifat otoritas** | Internal-adat: berasal dari struktur sosial Gayo sendiri | Internal-adat: diakui oleh *saudere* melalui musyawarah | **Eksternal-politis**: legitimasi berasal dari kekuasaan luar (Kesultanan Aceh) |
| **Penggunaan saat ini** | Masih digunakan, terutama dalam konteks **historis/resmi**; tidak dipertukarkan dengan *[reje](./Reje.md)* (misalnya: *[pĕngulu](./Pengulu.md) XII* ≠ *[reje](./Reje.md) XII*) | Lebih umum dalam percakapan sehari-hari dan administrasi adat modern | Digunakan secara terbatas—hanya untuk **empat tokoh utama** dan beberapa *[reje](./Reje.md)* yang mengadopsinya |
| **Cakupan wilayah** | Satu *blah* (subdivisi kelompok kekerabatan) atau kampung | Sama: satu *blah* atau kampung | Lebih luas: diasosiasikan dengan **pembagian besar wilayah Gayo** |
| **Simbol otoritas** | Tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi termasuk dalam sistem *suket, sipet, timbangan, bilangan* | Memegang *suket, sipet, timbangan, bilangan* sebagai alat ukur adat | Memiliki **bawar** (belati pusaka) sebagai tanda pengakuan dari Sultan Aceh |
| **Contoh spesifik** | — | *[reje](./Reje.md) Bukit*, *[reje](./Reje.md) Lingge*, dll. | ***[kĕjurun](./Kejurun.md) si òpat***:
1. [kĕjurun](./Kejurun.md)/[reje](./Reje.md) Bukit
2. [kĕjurun](./Kejurun.md)/[reje](./Reje.md) Siah Utama
3. [kĕjurun](./Kejurun.md)/[reje](./Reje.md) Lingge
4. [kĕjurun](./Kejurun.md) Pĕtiambang |
---
### **Hubungan Fungsional**
- ***[pĕngulu](./Pengulu.md)*** dan ***[reje](./Reje.md)***:
- Keduanya merujuk pada **jabatan yang sama**: pemimpin adat patriarkal suatu kelompok kekerabatan (*sara [reje](./Reje.md)*).
- Perbedaannya bersifat **historis dan stilistik**, bukan fungsional.
- Masyarakat Gayo **tidak mencampuradukkan** keduanya dalam penomoran (misalnya, *[pĕngulu](./Pengulu.md) XII* tidak pernah disebut *[reje](./Reje.md) XII*).
- ***[kĕjurun](./Kejurun.md)*** dan ***[reje](./Reje.md)/[pĕngulu](./Pengulu.md)***:
- Seorang *[kĕjurun](./Kejurun.md)* **juga seorang *[reje](./Reje.md)*** (atau *[pĕngulu](./Pengulu.md)*), tetapi tidak sebaliknya.
- Gelar *[kĕjurun](./Kejurun.md)* adalah **tambahan kehormatan** yang menandai hubungan sejarah dengan Aceh.
- Dalam praktik, seseorang bisa disebut **“[kĕjurun](./Kejurun.md) Bukit”** sekaligus **“[reje](./Reje.md) Bukit”**, menunjukkan **lapisan identitas ganda**: lokal dan regional.
---
### **Implikasi Budaya**
| Istilah | Pandangan Dunia yang Tersirat |
|--------|-------------------------------|
| ***[pĕngulu](./Pengulu.md)*** | Otoritas berasal dari **dalam**, dari akar adat Gayo yang paling murni. |
| ***[reje](./Reje.md)*** | Otoritas adalah **proses kolektif**: dipilih oleh *saudere*, bisa dipecat, dan bertanggung jawab atas adat. |
| ***[kĕjurun](./Kejurun.md)*** | Otoritas juga diakui oleh **dunia luar**—menunjukkan bahwa masyarakat Gayo **tidak terisolasi**, tetapi terhubung dalam jaringan politik Nusantara. |
---
### **Kesimpulan**
- ***[pĕngulu](./Pengulu.md)*** = **akar adat** (internal, historis).
- ***[reje](./Reje.md)*** = **wajah adat sehari-hari** (fungsional, akuntabel).
- ***[kĕjurun](./Kejurun.md)*** = **cabang adat yang diakui kerajaan** (eksternal, simbolis).
> 🔸 **Inti budaya**:
> Ketiga gelar ini menunjukkan bahwa **otoritas dalam budaya Gayo bersifat lapisan**:
> - Di dasar: **tradisi lokal** (*[pĕngulu](./Pengulu.md)*),
> - Di tengah: **musyawarah komunitas** (*[reje](./Reje.md)*),
> - Di puncak: **pengakuan sejarah regional** (*[kĕjurun](./Kejurun.md)*).
>
> Bersama, mereka membentuk **piramida legitimasi** yang utuh—dari gunung ke istana, dari masa lalu ke masa kini.