## Sĕntabi **Salabisasi:** sĕn-ta-bi **Kelas Kata:** Nomina (kata benda) / Verba (kata kerja) **Makna:** 1. **Nomina** – Permintaan maaf atau permohonan izin secara adat atas suatu perkataan atau perbuatan yang dianggap tidak sopan atau melanggar norma etika. 2. – Dalam konteks adat perkawinan Gayo: bentuk hormat panjang berupa gerakan *sĕmbah* yang dilakukan oleh mempelai pria kepada keluarga istrinya, biasanya dengan kipas di antara kedua tangan. 3. – Juga dilakukan pada malam *neik bei*, serta dalam acara-acara lain selama upacara pernikahan. 4. **Verba** – Melakukan gerakan meminta maaf atau menyampaikan permohonan izin secara adat. **Fungsi Utama:** - Sebagai ekspresi penghormatan dan penyesalan dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Gayo. - Digunakan dalam ritual adat penting seperti pernikahan dan juga dalam situasi sehari-hari untuk menunjukkan kesopanan dan kepatuhan terhadap adat. **Contoh Penggunaan:** - ***Sĕntabi mĕlèkat kuen kiri*** — Meminta maaf kepada malaikat di sebelah kanan dan kiri. - ***Sĕntabi kite ini bédnte*** — Minta maaf kepada semua kerabat yang hadir. - ***Anakku gere tĕrbōh naè bĕrsĕntabi, osahkam upah cacat*** — Anakku tidak bisa lagi melakukan gerakan *sĕntabi* karena cedera, berikanlah upah cacatnya - ***Bĕrsĕntabi ama benedné*** — Mohon maaf bapak-bapak - biasanya mengawali pidato atau saat ingin menyampaikan sesuatu dalam pertemuan/rapat **Catatan Tambahan:** - Kata ini sering digunakan bersama dengan kata **tabi**, yang memiliki makna serupa, yaitu meminta izin atau memohon maaf dalam konteks adat. - Terdapat hubungan erat antara *sĕntabi* dan praktik adat Gayo, terutama dalam hubungan kekerabatan dan prosesi pernikahan. - Gerakan *sĕntabi* adalah simbol kerendahan hati dan pengakuan atas kesalahan atau ketidaknyamanan yang mungkin ditimbulkan. - *Upah cacat* merujuk pada penjelasan dari buku Het Gayoland en zijn Bewoners, halaman 290 dan 114; merujuk pada **ganti rugi atau kompensasi** yang dibayarkan kepada seseorang yang mengalami cedera, yang menyebabkan hilangnya fungsi fisik atau kemampuan tubuh tertentu, seperti kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan penghormatan (seperti gerakan *sentabi*). Ini adalah kompensasi yang diberikan sebagai bentuk tanggung jawab dari pihak yang menyebabkan cedera tersebut. Kalimat **"anakku gere tĕrbōh naè bĕrsĕntabi, òsahkam upah cacat"** dapat diterjemahkan sebagai: *"Anakku tidak dapat lagi melakukan gerakan *sentabi*, berikanlah ganti rugi atas cacat yang dia alami."* **Upah cacat** di sini berarti kompensasi atau pembayaran untuk kerugian fisik yang terjadi akibat cedera, yang menyebabkan seseorang tidak dapat lagi melakukan aktivitas tertentu (misalnya, dalam hal ini, gerakan *sentabi*). Ini merujuk pada ganti rugi atas rasa sakit atau cacat yang dijelaskan sebelumnya, di mana jika seseorang terluka dan kehilangan fungsi tubuh tertentu, maka pihak yang bersalah harus membayar sejumlah uang sebagai bentuk ganti rugi. Dalam budaya atau hukum adat yang diterapkan di wilayah Gayō Lues, tindakan memberi ganti rugi atas **"upah cacat"** adalah untuk menanggulangi dampak cedera yang menghalangi korban untuk melakukan kegiatan atau gerakan yang sebelumnya bisa dilakukan, seperti gerakan penghormatan (*tabéq* atau *sentabi*).