-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Cino
Fikaramandio edited this page Jul 23, 2026
·
1 revision
Salabisasi: ci-nō
Kelas kata: Nomina (kata benda)
Makna:
- (Tentang ayam aduan): Keunikan atau ciri khas perilaku yang ditunjukkan ayam aduan setelah sekali bertarung dan menang, yang dianggap sebagai tanda pasti bahwa ia akan terus menang; atau titik lemah/luka lama pada tubuh ayam aduan (bekas luka dari pertarungan pertamanya) yang membuatnya sangat ganas karena ingat akan "aib" tersebut.
- (Tentang manusia): Titik lemah, luka lama, atau titik sensitif; secara khusus merujuk pada kata atau ungkapan (pri cinō) yang jika disebutkan akan memicu rasa sensitif atau malu pada orang-orang tertentu (misalnya anggota marga atau kampung tertentu) karena mengingatkan mereka pada perbuatan memalukan yang pernah dilakukan oleh mereka atau leluhur mereka.
Fungsi Utama: Berfungsi sebagai subjek atau objek yang merujuk pada ciri khas perilaku (pada hewan), titik lemah fisik/psikologis, atau stigma sosial/ungkapan tabu yang memicu rasa malu atau sensitivitas pada kelompok tertentu.
Contoh Penggunaan:
- Kurikmu sana cinōé atau cinō ni sana? — Cinō cagèë: apa ciri khas perilaku (keunikan) ayam aduanmu? — Ciri khasnya adalah cagèë.
- Tanòm murip jadi kĕn cinō ni urang Pĕparik, gere tĕrprén i arapné: ungkapan "hidup-hidup dikubur" telah menjadi titik sensitif (memicu rasa sensitif) bagi orang-orang Peparik, dan ungkapan ini tidak boleh diucapkan di hadapan salah satu dari mereka.
- pĕnggele kōl mĕnjadi cinō ni urang Pĕnosan: ungkapan "labu besar" telah menjadi titik sensitif bagi orang-orang Penosan.
- kuah Landé: (menjadi cinō) bagi orang-orang Landé.
- tenggem Layòng: (menjadi cinō) bagi orang-orang Layong.
- capah Nanga: (menjadi cinō) bagi orang-orang Rĕrebe, yang disebut berasal dari Nanga.
Catatan:
- Asal Usul Kata (Serapan): Merupakan kata serapan dari bahasa Aceh (cinō), Minangkabau (cénð), dan Melayu (cena / cinna), yang berakar dari bahasa Sanskerta: चिह्न (cihna), yang berarti tanda, ciri, atau cap.
- Konteks Budaya: Konsep cinō berfungsi sebagai mekanisme pengingat kolektif dan sanksi sosial tidak tertulis. Sebuah peristiwa memalukan di masa lalu (seperti mengubur hidup-hidup teman yang sakit demi kecepatan perjalanan, atau membawa pulang labu raksasa yang diejek tetangga) diabadikan dalam bentuk ungkapan tabu (pri cinō). Mengucapkan cinō di depan kelompok yang bersangkutan dianggap sangat tidak sopan dan dapat memicu konflik.
- Perbandingan: dengan unen-unen. Keduanya merujuk pada kata atau ejekan yang memicu kenangan menyakitkan atau memalukan. Perbedaannya: unen-unen lebih condong pada ejekan, celaan, atau nama panggilan yang menghina secara langsung, sedangkan cinō adalah "titik lemah" atau "luka lama" (bisa berupa kata, ungkapan, atau bahkan ciri fisik/perilaku) yang jika disentuh atau disebutkan akan memicu reaksi sensitif atau rasa malu yang mendalam, sering kali terkait dengan aib leluhur atau kelompok secara kolektif.