-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Paud
Fikaramandio edited this page Jul 18, 2026
·
1 revision
Salabisasi: pa-ut
Kelas kata: Verba (kata kerja); Adjektiva (kata sifat, pada bentuk turunan).
Makna:
- Melengkung; bengkok; terpilin (tentang papan, pisau, dll. yang lama terkena matahari).
- Melengkungkan; membengkokkan (yang lurus menjadi bengkok dan yang bengkok menjadi lurus); menarik atau membengkokkan dengan kuat; mengatur sesuatu agar berada dalam posisi atau lipatan yang diinginkan; membujuk atau merayu seseorang dengan kata-kata manis.
Fungsi Utama: Berfungsi sebagai predikat yang menyatakan tindakan membengkokkan benda fisik, merapikan pakaian, atau membujuk seseorang. Sebagai adjektiva (pada bentuk turunan), menyatakan sifat benda yang mudah bengkok atau sifat seseorang yang mudah dipengaruhi oleh rayuan.
Contoh Penggunaan:
- ipauté papan si mugèdòk: ia meluruskan papan yang melengkung.
- ipauté wé kĕn dĕku ni niu: ia membengkokkan rotan menjadi ikatan untuk penampi padi.
- ipauté pĕkayadné: ia merapikan pakaiannya pada lipatan yang benar.
- ipaut-pauté dirié: ia berdandan dengan rapi, bersusah payah merapikan penampilannya.
- panglime ike gere tĕtah pauté, gere mĕra nlewen: jika seorang panglima tidak dibujuk dengan kata-kata manis, ia tidak mau berperang.
- Pri bĕrpaut: bujukan melalui sanjungan dan kata-kata manis.
- Mupaut: melengkung atau terbengkok (tentang kayu).
- Pauten: mudah melengkung (tentang kayu yang belum benar-benar mati atau kering); mudah dipengaruhi oleh sanjungan dan kata-kata manis, mudah dibujuk (tentang seorang panglima).
Catatan:
- Variasi Bentuk: Kata ini memiliki morfologi yang kaya, termasuk bentuk aktif (mĕmaut), pasif/kausal (ipauté), reduplikasi refleksif (ipaut-pauté), dan bentuk turunan adjektiva (bĕrpaut, mupaut, pauten).
- Konteks Budaya: Penggunaan kata ini meluas secara metaforis dari domain fisik (membengkokkan kayu/rotan) ke domain psikologis dan sosial (membujuk, merayu, atau memanipulasi seseorang dengan kata-kata manis). Hal ini sangat relevan dalam konteks diplomasi dan kepemimpinan tradisional Gayo, di mana seorang pemimpin (seperti panglime) perlu "dibujuk" atau "dirayu" dengan cara yang tepat (melalui sanjungan) agar mau mengambil tindakan penting seperti memimpin perang.
- Perbandingan dengan Aliten: Keduanya merujuk pada karakter seseorang yang tidak memiliki keteguhan hati atau inisiatif sendiri dan sangat bergantung pada pengaruh eksternal. Perbedaannya terletak pada metode pengaruhnya: aliten membutuhkan dorongan semangat atau keberanian, sedangkan pauten membutuhkan rayuan, sanjungan, atau kata-kata manis agar mau bertindak.