-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Tapas
Fikaramandio edited this page Jul 30, 2026
·
1 revision
Salabisasi: ta-pas
Kelas kata: Adjektiva (kata sifat), Verba (kata kerja, dalam bentuk turunan), dan Adverbia (kata keterangan).
Makna:
- Menyentuh tanah atau dasar.
- Sangat dekat, beradu fisik, atau berhadapan langsung (jarak dekat).
- Segera mengikuti, menindaklanjuti, atau menghadapi sesuatu tanpa penundaan.
- Sederhana atau langsung di atas alas dasar (dalam konteks tata cara makan).
Fungsi Utama: Digunakan untuk mendeskripsikan kontak fisik dengan tanah, jarak yang sangat dekat dalam konfrontasi, tindakan mengejar atau menghadapi seseorang secara langsung, serta cara makan yang informal dan egaliter (tanpa alas saji khusus).
Contoh Penggunaan:
- Gere nè tapas tapas kidingku : Kaki saya tidak lagi menyentuh tanah (saat menyeberangi sungai yang dalam).
- nge tapas luju (kunjur) : (para petarung) sudah saling berdekatan sedemikian rupa sehingga mereka bisa saling serang dengan senjata tajam (tombak), sudah beradu fisik atau tubuh ke tubuh.
- nge tapas mpu n kōrō : pemilik kerbau [yang dicuri atau diambil karena utang] segera [mengikuti pencuri] [ke tempat tinggalnya untuk meminta klarifikasi, lihat tundung].
- Tapasen atau napasen; itapasné ku kampungé sō : dia (pemilik kerbau yang diambil) segera mengikuti (pencuri) sampai ke kampungnya (untuk membicarakan masalah tersebut).
- Maan bertapas = maan bĕrdĕdes : makan tanpa menggunakan dulang atau dalung; piring-piring diletakkan begitu saja di atas tikar.
Catatan:
- Variasi Penggunaan: Kata ini memiliki bentuk turunan tapasen atau napasen yang berarti mengikuti atau mengejar seseorang secara langsung. Dalam konteks makan, kata ini bersinonim dengan bĕrdĕdes, yang merupakan lawan kata (antonim) dari makan secara formal menggunakan alas saji (dulang atau dalung).
-
Konteks Budaya:
- Tata Cara Makan: Maan bertapas mencerminkan suasana makan yang santai, akrab, dan egaliter. Ketika piring diletakkan langsung di atas tikar tanpa dulang atau dalung, ini menandakan tidak adanya hierarki formal atau upacara khusus dalam jamuan tersebut.
- Penyelesaian Konflik: Konsep nge tapas mpu n kōrō dan tapasen menunjukkan budaya masyarakat Gayo yang menghargai tindakan tegas dan langsung (to the point). Jika ada kerbau yang dicuri atau diambil paksa, pemiliknya tidak hanya melapor secara pasif, tetapi secara fisik dan segera mengikuti jejak pencurinya hingga ke kampungnya untuk menuntut penjelasan atau penyelesaian. Ini menunjukkan semangat kemandirian, keberanian, dan keadilan yang dijunjung tinggi dalam hukum adat.