-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Fikaramandio edited this page Aug 13, 2026
·
1 revision
Salabisasi: (sufiks, tidak berdiri sendiri)
Kelas kata: Sufiks posesif (kata ganti milik)
Makna: Akhiran kata ganti milik orang pertama jamak (inklusif): milik kita; dari kita (termasuk orang yang diajak bicara). Juga dipakai sebagai bentuk jamak keagungan untuk 'milikku'. Dalam bahasa halus (bĕrmĕlèngkan), juga merupakan singkatan dari kite dalam arti 'engkau', 'Anda' (jadi sama dengan mè).
Fungsi Utama:
- Menyatakan kepemilikan orang pertama jamak inklusif: 'milik kita'.
- Sebagai bentuk hormat untuk 'milikku'.
- Dalam bahasa halus/resmi, untuk menyapa orang kedua: 'Anda', 'engkau'.
Contoh Penggunaan:
- Anakte. (Anak kita.)
- Ara kĕkebĕrente. (Ada cerita dari kita; kita punya sebuah cerita.)
- Ike bĕta, glah kite tèlòngen umahte ni kite pé. (Kalau begitu, mari kita bakar juga rumah-rumah kita.)
- Amante (di Laut dan Gayo Lues) / amate (di Gayo Lues): Bapak kita.
- Inente (di Laut dan Gayo Lues) / inete (di Gayo Lues): Ibu kita.
- Aku mĕnjangkòn langkahte le ku ini. (Aku datang ke sini untuk mengundangmu [secara harfiah: langkah kita/kamu].)
- Ike ara kasih-sayangte, ara dĕnie ni kami. (Jika ada kasih sayangmu, selamatlah kami [dikatakan kepada raja yang kepadanya dipersembahkan batil bĕrsap].)
- Kĕrna kata ulihte (atau kata(n)te atau pri(n)te) sat n ini ku kami... (Karena kata-katamu tadi kepada kami...)
Catatan:
- Dalam dialek Laut, setelah vokal selalu menggunakan bentuk nte. Di Gayo Lues, bentuk nte bersifat opsional; setelah konsonan digunakan -te.
- Sufiks ini adalah singkatan dari kite (kita, inklusif).
- Dalam konteks bahasa halus (bĕrmĕlèngkan, bahasa pidato resmi), -te dipakai untuk menyapa orang kedua dengan hormat, setara dengan mè (kamu/Anda). Contohnya langkahte secara harfiah berarti 'langkah kita' tetapi digunakan untuk 'langkahmu' atau 'kedatanganmu' sebagai bentuk penghormatan.
- Penggunaan -te untuk raja atau orang terhormat menunjukkan tingkat kesopanan bahasa yang tinggi, di mana orang kedua tidak disapa langsung dengan 'kamu', melainkan dengan bentuk 'kita' sebagai bentuk tidak langsung yang halus.