-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Laman
Fikaramandio edited this page Jul 23, 2026
·
1 revision
(atau aman)
Salabisasi: la-man atau a-man
Kelas kata: Konjungsi (kata sambung) bersyarat.
Makna Jika, apabila, atau ketika (merupakan bentuk yang lebih halus atau tinggi tingkat kesopanannya dibandingkan kata ike).
Fungsi Utama Berfungsi sebagai kata penghubung untuk menyatakan syarat, pengandaian, atau waktu terjadinya suatu peristiwa. Kata ini sering digunakan dalam konteks yang lebih formal, sakral, atau dalam pengucapan sumpah dan mantera.
Contoh Penggunaan
- (L)aman jeger anakku 'ni kuglih lang sō si òpat kidingé ku kubah ni Datu Mĕrah Mege : Jika anakku ini diizinkan untuk sembuh, maka nanti aku akan menyembelih hewan berkaki empat (kerbau atau kambing) di makam Datu Merah Mege.
- Lamanta : bentuk yang lebih sakral dan tegas daripada laman, digunakan dalam sumpah dan mantera.
- (l)amanta ara kumei rĕtamu, maté mi aku : Jika aku telah mengambil hartamu (mencuri), maka biarlah aku mati (sebuah sumpah).
- Batak (l)aman si mugèmòt, bédné ipadné: Orang Batak, jika sesuatu itu bergerak, maka indah untuk dimakan; orang Batak memakan segala sesuatu yang hidup (semua jenis hewan yang memungkinkan).
Catatan
- Variasi dan Sinonim: Memiliki varian bentuk aman. Bentuk lamanta adalah varian yang lebih sakral, tegas, dan formal dibandingkan laman, yang secara khusus digunakan dalam konteks sumpah dan mantera. Sinonim yang lebih umum atau kurang formal adalah ike.
- Konteks Budaya: Penggunaan laman dalam konteks penyembuhan (nazar di makam Datu Merah Mege) dan sumpah adat (mengharapkan kematian jika bersalah) mencerminkan sistem kepercayaan masyarakat Gayo yang mengikat janji atau pernyataan dengan konsekuensi spiritual atau fisik yang nyata. Selain itu, catatan tentang kebiasaan makan orang Batak menunjukkan dinamika hubungan antaretnis dan stereotip kuliner yang dicatat dalam literatur sejarah masa lalu.
- Serapan Bahasa Arab: Dalam contoh kalimat terdapat kata kubah (makam) yang merupakan serapan dari bahasa Arab قُبَّة (qubbah), yang dalam konteks ini merujuk pada bangunan makam keramat. Kata Datu juga merupakan gelar yang memiliki akar sejarah dalam sistem kebangsawanan dan keagamaan di Nusantara.