-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Boh
(atau BUH, BŌBŌH, BUBUH)
Salabisasi: bōh; buh; bō-bōh.
Kelas kata: Verba (Kata Kerja), Nomina (Kata Benda - pada bentuk turunan tertentu).
Makna:
- (Verba) Meletakkan, menempatkan, memasang, menyediakan.
- (Verba) Menyebabkan, mendatangkan, mengakibatkan, membuat, menghasilkan.
- (Verba) Mengambilkan/menyendokkan nasi (ke piring), menanak.
- (Verba) Mengucapkan (kata-kata), memberi (nama/luka).
Fungsi Utama: Digunakan sebagai kata kerja transitif yang sangat produktif. Maknanya sangat luas, mulai dari tindakan fisik (meletakkan benda, menyajikan makanan) hingga tindakan abstrak (menyebabkan sesuatu terjadi, mengucapkan kata-kata, memberi nama).
Contoh Penggunaan:
A. Makna Meletakkan / Menyediakan / Menyajikan:
- Mbōh krō ku wan pinggen, menaruh nasi yang sudah dimasak ke dalam piring (mengambilkan nasi).
- mbōh jantar ku wan cawan, menaruh sayur ke dalam mangkuk.
- Ròm bédné ibōhié ku wan kĕben, ia mengumpulkan semua padi ke dalam lumbung.
- ròm sara karung sine nge ibōdné ku wan kĕben, satu karung beras itu sudah ia masukkan ke dalam lumbung.
- Terbōh aku krō (atau krō tĕrbōh aku) ku wan cawan, saya secara tidak sengaja menaruh nasi di mangkuk (bukan di piring).
- Gere tĕrbon aku labu ini ku para sie, atas tu, saya tidak bisa menempatkan kendi air minum ini di para sana, terlalu tinggi.
B. Makna Menyebabkan / Mengakibatkan / Membuat:
- mbōh atau mboboh manaé, menjelaskan maknanya, menebak maksudnya.
- ibōhé gĕral n anaké Amin, ia memberi nama anaknya Amin.
- mbōh kĕkeberen, bercerita (menyampaikan cerita).
- mbōh sumpah, bersumpah.
- ibōhé pri si gere bĕtul ku kite, ia mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada kami.
- wé ibōh kĕn reje, ia diangkat/dijadikan reje.
- ibō(h)bōhé tajuk k' ulué mĕjenjen, ia sesekali menaruh bunga di kepalanya.
- manè aku pĕlōlō urum Panglime Tibang, ibōhé aku tĕrlambungku kĕn rincung, kemarin saya bertempur dengan Panglime Tibang, ia melukai sisi tubuh saya dengan rencong.
- aku mbōhé mugah jĕma sō, saya telah melukai orang di sana.
- aku mugah ibōh luju manè, saya secara tidak sengaja melukai diri saya sendiri dengan pisau kemarin.
- murójók matangku ibōh kayu, tertusuk mata saya dengan kayu.
- nge mbèh pirak n ama pudah a ibōhkō, uang (perak) peninggalan ayah dahulu sudah kamu habiskan.
- gere bĕrgues, bĕrbarul ibōhé kōrōé, tidak dengan cambuk, melainkan dengan tongkat ia memukul kerbaunya.
- tikòn bĕsi kĕn pĕmbarulé kubōh, saya menggunakan tongkat besi untuk memukulnya.
- beingku mbōhé [anak ini], suamiku yang telah membuat (menghamili/mengandung) [anak ini].
- sahan mbōh kō? _ Beingku mbōh aku, siapa yang membuatmu hamil? — Suamiku yang menghamiliku.
- sana (si) mbōhé maté? _ Maté sakit, apa penyebab kematiannya? — Ia mati karena sakit.
- sana mbōhé kati ……, bagaimana bisa terjadi bahwa……, apa penyebab……
- jĕma maté ibōh bĕdil déba, maté ibōh luju déba, ada yang gugur karena tembakan senapan, ada yang gugur karena senjata tajam.
C. Bentuk Turunan dan Penggunaannya:
- ibōn kĕn reje, diangkat menjadi reje.
- nge kupĕtibōhen (atau nge kukèdni ipĕtibōhen) krōmĕ ku aka sō kasé, saya sudah memerintahkan kakak perempuan untuk mengambilkan nasi untuk Anda nanti.
- gere tĕrbōh kō kĕn reje, kamu tidak bisa (tidak boleh) diangkat menjadi reje (misalnya karena terlalu bodoh).
- gere tĕrbōhkō mana é, kamu tidak bisa menjelaskan maksudnya (misalnya menebak teka-teki).
- gere tĕrbōh, tidak boleh, tidak bisa (lawan dari ngōk / boleh).
- gere tĕrbōh kō blōh sĕrĕlō 'ni, kamu tidak boleh pergi hari ini.
- gere tĕrbōh gere (atau lĕgih) kō gèh lang, kamu pasti harus datang besok.
-
Bérbōh, sudah diambilkan nasinya; dibuat, tidak asli, tiruan, pura-pura.
- nge bĕrboh krō bĕsilō, nasi sekarang sudah diambilkan/disajikan.
- bunge bĕrbōh, bunga tiruan/buatan.
- janggut bĕrbōh, janggut palsu (seperti yang dipakai panglima perang agar terlihat menakutkan).
- Nge bĕrbōhen krōé, jamué ger' ilón gèh, mereka sudah mengambilkan nasi, tetapi para tamu belum datang.
- Bĕrsibōhen [krō], saling mengambilkan nasi [untuk dimakan]; (kiasan) saling menyerang dengan senjata.
- Pubĕbōh atau pubō(h)-bōh [krō], terus-menerus mengambilkan nasi.
-
Pĕrbōh atau pĕrbōhbōh [krō], dengan senang hati dan rajin mengambilkan nasi.
- sĕnta gèh jamu, nge ibōhé krō, pĕrbōh pĕdih wé, begitu ada tamu datang, ia langsung mengambilkan nasi, ia sangat rajin dalam melayani tamu makan.
- Sĕnuk pĕmbōh n krō, sendok untuk mengambilkan nasi.
-
Pembōbōh, porsi nasi tambahan (bahasa Melayu: nasi tambah).
- nti mi naè ibōhkō pĕmbōbōh, gĕnap batang èdangen ini pé, jangan ambilkan saya nasi tambah lagi, porsi pertama ini sudah cukup.
Catatan:
- Variasi Dialek dan Morfologis: Dalam dialek Bebesen disebut bòh atau bò bòh. Bentuk terinfleksinya adalah mbōh, mbōbōh (Bebesen: mbòh, mbòbòh). Bentuk pasif/terikatnya adalah bōhen atau bon.
- Konteks Budaya (Tata Krama Makan): Frasa mbōh krō (mengambilkan nasi) sangat sentral dalam budaya Gayo. Tuan rumah (khususnya perempuan) bertugas melayani tamu dengan mengambilkan nasi ke piring. Kata pĕrbōh (rajin mengambilkan nasi) adalah pujian tinggi bagi seorang perempuan atas keramahannya.
- Makna Kiasan (Perang): Frasa bĕrsibōhen [krō] secara harfiah berarti "saling menghidangkan nasi", tetapi dalam konteks konflik bermakna "saling menyerang dengan senjata" (saling "menghidangkan" luka/pukulan satu sama lain).
(atau BUH, BŌ)
Salabisasi: bōh; buh; bō.
Kelas kata: Partikel, Interjeksi (Kata Seru), Konjungsi Korelatif.
Makna: Ayo, marilah, baiklah, entah... entah... (baik... maupun...).
Fungsi Utama: Digunakan sebagai partikel penyemangat, ajakan, atau kata seru untuk menyatakan kepasrahan, ketidakpastian, atau persetujuan dalam berdiskusi.
Contoh Penggunaan:
- bōh kō bĕdidòng bĕsilō, ayo, kamu main didòng sekarang.
- bōh kite blōh ku Acéh. _ Bōh mi, kĕné, ayo kita pergi ke Aceh. — baiklah, katanya.
- ike bĕta we turah, bĕtangguh aku ku kam bōh umur sĕpuluh ari 'ni, jika memang harus begitu, saya minta penangguhan, mari kita tentukan sepuluh hari dari sekarang.
- bōh lang, bōh suei kubèri, entah besok, entah lusa saya akan membayarnya, (tapi saya belum bisa menentukan kapan).
- bōh lang, bōh suei, nti nè bĕta lagumu, entah besok entah lusa, jangan lakukan itu lagi.
- bōh uren, bōh gere, aku blōh we lang, entah hujan entah tidak, saya pasti pergi besok.
- Bōh ningkam kune, ayo, katakan, bagaimana menurutmu?
Catatan:
- Konteks Pragmatik: Partikel ini sangat sering muncul dalam percakapan persuasif, musyawarah, atau negosiasi (seperti dalam penangguhan pembayaran utang: bōh lang, bōh suei).
Salabisasi: bòh.
Kelas kata: Partikel, Interjeksi (Kata Seru).
Makna: Ya, baik, siap, setuju (terutama sebagai jawaban patuh atas perintah atau permintaan).
Fungsi Utama: Digunakan sebagai partikel persetujuan singkat, sopan, dan patuh. Sering kali diikuti oleh kata kĕné (katanya/ucapnya) dalam narasi.
Contoh Penggunaan:
- blōh pé kō ku sō. _ Bòh, kĕné, pergilah sebentar ke sana. — Baik, katanya.
- nti kō pĕsĕsinggah i dĕné. _ Bòh, kĕné, jangan singgah-sembarang di jalan. — Baik, katanya.
- ulak mi aku. _ Bòh, kĕné, izinkan saya pulang. — Baik, katanya. (Ini adalah salah satu formula baku di mana tamu meminta izin pulang (lihat bĕrsinen), dan tuan rumah menjawab dengan bòh, atau lebih sopan dengan ngōk atau jĕròh).
- lang nti kō blōh-blōh win ari umah 'ni, boh? Bòh, kĕné, besok jangan kamu pergi kemana-mana meningalkan rumah, ya nak — Baik, katanya.
Catatan:
- Konteks Budaya (Tata Krama): Bòh adalah bentuk persetujuan yang menunjukkan kepatuhan dan kesopanan tingkat tinggi, terutama dari orang yang lebih muda/rendah kedudukannya kepada yang lebih tua/berwibawa. Dalam ritual pamitan (bĕrsinen), bòh adalah jawaban standar tuan rumah untuk mengizinkan tamu pulang.
Salabisasi: bòh.
Kelas kata: Partikel.
Makna: (Lihat dialek Bebesen).
Catatan:
- Entri Silang: Materi hanya mencatat keberadaannya dalam dialek Bebesen sebagai bōh
Salabisasi: bòh.
Kelas kata: Nomina (Kata Benda).
Makna: Buah.
Fungsi Utama: Digunakan sebagai kata benda untuk merujuk pada buah, khususnya dalam beberapa ungkapan atau istilah khusus.
Contoh Penggunaan:
- Bòh bĕrtuh atau bĕrtuh, buah delima.
- bòh gumbak, perhiasan berbentuk buah yang terbuat dari perak atau suasa, yang dikaitkan dengan kait (kawit) di ikat kepala kebesaran (bulang kōl) pengantin pria.
Catatan:
- Asal-usul: Merupakan kata serapan dari bahasa Aceh (padanan dari kata Gayo asli wah).
- Konteks Budaya (Busana Adat): Bòh gumbak adalah elemen penting dalam busana kebesaran pengantin pria Gayo. Bentuknya yang menyerupai buah melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan harapan akan keturunan. Penempatannya di bulang kōl (ikat kepala) menunjukkan status dan kehormatan pengantin pria dalam upacara adat.