-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Kite
Salabisasi: KI-TÉ
Kelas kata: Nomina
Makna:
- Tangga atau anak tangga yang digunakan untuk naik ke rumah, jambur, atau bangunan lainnya seperti umah rindung.
- Istilah ini juga mencakup komponen-komponen spesifik dari struktur tangga
- Secara umum, kata ini digunakan untuk merujuk pada seluruh struktur tangga dan fungsinya dalam arsitektur tradisional masyarakat Gayo.
Fungsi Utama:
Kata ini digunakan untuk menyebut tangga serta elemen-elemen terkait dalam rumah adat atau bangunan tradisional. Selain itu, kata ini juga digunakan dalam konteks aktivitas fisik, seperti naik atau turun tangga.
Contoh Penggunaan:
- Inen kité: Dua papan vertikal yang menjadi sandaran utama tangga, di antaranya dipasang anak tangga (anak n kité).
- Awah n kité: Area datar di bagian atas tangga, tempat berhenti sebelum memasuki ruangan.
- Ulu n kité: Bagian ujung dari papan vertikal (inen kité) yang menonjol di atas lantai rumah.
- Neik tĕrkité : Naik melalui tangga.
Catatan Tambahan:
Arsitektur Tradisional:
- Dalam arsitektur rumah tradisional Gayo, tangga (kité) memiliki peran penting karena digunakan untuk menghubungkan lantai dasar dengan lantai utama rumah yang biasanya lebih tinggi.
- Komponen seperti inen kité dan awah n kité mencerminkan kehalusan desain dan nilai estetika dalam konstruksi tradisional.
Salabisasi: ki-te
Kelas kata: Pronomina (kata ganti orang pertama jamak inklusif); Pronomina (kata ganti orang kedua halus)
Makna: Kita; kami (termasuk orang yang diajak bicara). Dalam bahasa halus (bĕrmĕlèngkan), juga dipakai sebagai kata ganti orang kedua sebagai pengganti kam (engkau).
Fungsi Utama:
- Sebagai kata ganti orang pertama jamak inklusif: 'kita' (pembicara + lawan bicara).
- Dapat dipakai sebagai prefiks sebelum verba.
- Dalam bahasa halus/resmi, digunakan untuk menyapa orang kedua (raja, guru, dan sebagainya) sebagai bentuk penghormatan.
Contoh Penggunaan:
- Bōh kite maan bédnte. (Mari kita semua makan.)
- Kite urang Gajō bĕrume bédné. (Kita orang Gayo semuanya bersawah.)
- Anak ni kite (untuk penekanan sebagai ganti anakte) gere sara anak ni pòng. (Anak kita tidak seperti anak orang lain.)
- Bōh kite rei guru-didòng urum-urum. (Mari kita bersama-sama pergi menjemput guru didong.)
- Kite urang Islam gere tĕrpan kite babi. (Kita orang Islam tidak boleh makan daging babi.)
- Bĕta kĕné kite nungern kami sine. (Begitulah yang Engkau katakan tadi kepada kami.)
- Kite kasihi kami. (Kasihanilah kami, ya Engkau.)
- Kite ejeri kami. (Ajarlah kami, ya Engkau.)
- Ku kite reje kunahan. (Kupersembahkan ini kepada Anda, raja.)
Catatan:
- Kite adalah kata ganti inklusif, artinya selalu melibatkan lawan bicara. Ini berbeda dengan kami yang eksklusif (tidak melibatkan lawan bicara).
- Dalam bahasa halus (bĕrmĕlèngkan), kite dipakai untuk menyapa orang kedua, bukan kam. Bentuk ini dipakai sebagai prefiks pada verba, bukan sebagai sufiks seperti kam.
- Penggunaan kite untuk menyapa raja ("ku kite reje kunahan") adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam tata krama berbahasa Gayo, di mana orang kedua tidak disapa langsung dengan 'engkau', tetapi dengan 'kita' sebagai bentuk halus dan merendah.
- Bentuk kite juga menjadi asal dari sufiks posesif -te. Lihat entri -te.